GrinduluFM Pacitan - Meski hingga sekarang belum ditemukan kasus infeksi virushanta di Kabupaten Pacitan, namun warga dihimbau tetap jaga kebersihan agar terhindar dari penyakit mematikan yang ditularkan melalui tikus tersebut.
Di tengah hiruk-pikuk perhatian masyarakat Pacitan terhadap mewabahnya penyakit
leptospirosis yang ditularkan oleh tikus pembawa bakteri, ada satu ancaman
kesehatan yang nyaris tak terdengar, namun berpotensi mematikan yaitu
hantavirus.
Ia
tidak menyebar dari manusia ke manusia seperti influenza. Ia tidak menimbulkan
wabah besar yang langsung mencuri perhatian media. Tetapi justru karena itu,
hantavirus menjadi lebih berbahaya, silent threat yang bergerak
perlahan di balik bayangan lingkungan kita sendiri. Dan yang lebih
mengkhawatirkan populasi tikus di Pacitan musim kemarau ini semakin banyak.
Bahkan tidak sedikit tikus yang beredar aktif di lingkungan rumah warga.
“Nggih
perlu waspada meski di pacitan masih belum ditemukan kasusnya tapi dihimbau tetap
jaga kebersihan,”kata drg Nur Farida Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
(P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan saat dikonfirmasi, Jumat (8/5/2026).
Dalam
dokumen resmi Kementerian Kesehatan, hantavirus disebut sebagai zoonosis
emerging, penyakit baru yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman
kesehatan masyarakat. Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya virus ini.
Masalah utamanya adalah kita sering tidak menyadari keberadaannya.
Saat ini Dinas Kesehatan fokus mencegah penyebaran penyakit leptospirosis yang dikatakan tidak boleh dianggap remeh peningkatan kasusnya. Dinkes mencatat sebanyak 133 warga terinfeksi sejak Januari hingga April 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pacitan, drg Nur Farida mengatakan meski angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025. Namun, ia menegaskan kondisi ini tidak boleh dianggap remeh. Data Dinkes menunjukkan, April 2026 menjadi 42 kasus.
“Total
pasien leptospirosis dari Januari sampai April 2026 ada 133 pasien. Memang
lebih rendah dibanding tahun lalu, tapi kewaspadaan tetap harus ditingkatkan,”
ujarnya.
Hantavirus bukan ditularkan oleh nyamuk, bukan pula melalui makanan secara langsung. Ia menyebar melalui sesuatu yang sering kita anggap sepele melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus. Saat ini waspada bagi nelayan karena tikus pembawa virus hanta tersebut ditemukan di kapal.
Virus ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, atau saliva tikus, kontak langsung dengan rodensia, luka terbuka pada kulit, dan permukaan yang terkontaminasi.
“Dengan kata lain, seseorang tidak
perlu digigit tikus untuk tertular. Cukup berada di lingkungan dengan
manifestasi tikus dan menghirup udara yang terkontaminasi,”tutupnya.
Reporter:Asri

