GrinduluFM Pacitan - Kasus leptospirosis lebih akrab disebut penyakit kencing tikus awal tahun 2026 kembali menunjukan tren peningkatan.
Belum
genap tiga bulan Januari hingga awal April 2026 tercatat total capai 47 kasus.
Dari
angka tersebut sebagian penderita masih dirawat di rumah sakit maupun di klinik
kesehatan dan bahkan ada yang di rujuk ke rumah sakit luar Pacitan.
Suka
tidak suka fakta yang ada di Pacitan termasuk daerah dengan tingkat kejadian
cukup tinggi, terutama saat curah hujan meningkat.
Data
Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan mencatat lonjakan kasus
leptospirosis di Kabupaten Pacitan terjadi sejak Januari 18 kasus kemudian
Februari tercatat 13 kasus selanjutnya belum genap sebulan Maret tercatat 16
kasus.
“Belum genap tiga bulan diawal tahun 2026 ini sudah tercatat total ada 47 warga terpapar penyakit yang disebabkan kencing tikus atau leptospirosis,”kata drg. Nur Farida Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
Leptospirosis merupakan
penyakit zoonosis, yaitu infeksi yang ditularkan dari hewan ke manusia.
Penyebabnya adalah bakteri Leptospira interrogans yang banyak ditemukan pada
tikus, namun juga bisa berasal dari hewan lain seperti kucing, sapi, kambing,
hingga anjing.
“Bakteri
ini bisa bertahan lama di saluran kemih hewan dan keluar bersama urin. Jika
mencemari air atau tanah, risiko penularannya ke manusia sangat
tinggi,”ujarnya.
Gejalanya
yang tidak khas. Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami demam, sakit
kepala, menggigil, dan nyeri otot. Namun nyeri otot pada leptospirosis umumnya
terasa kuat di bagian betis, punggung, dan perut.
Pada
kondisi yang lebih parah, penyakit ini dapat memicu perdarahan, gangguan fungsi
hati yang ditandai dengan tubuh menguning, hingga gagal ginjal akut. Jika tidak
segera ditangani, kondisi tersebut dapat membahayakan nyawa.
Reporter:Asri

