Mengejutkan! Akibat Kelamaan Pembelajaran Dari Rumah, 36 Anak di Pacitan Memilih Berhenti Sekolah

Posted by Radio Grindulu FM Pacitan 104,6 MHz on Jumat, Mei 13, 2022

GrinduluFM Pacitan - Pandemi Covid-19 tidak hanya memporak porandakan perekonomian dan kesehatan saja, akan tetapi dunia pendidikan di Kabupaten Pacitan juga ikut terdampak hebat.

Akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan sistem belajar dari rumah atau daring yang dipercaya menjadi jurus jitu memutus mata rantai penularan Covid-19 menggantikan pembelajaran tatap muka malah justru menurunkan angka capaian anak wajib belajar di Kabupaten Pacitan. Saking lamanya belajar dari rumah, anak anak ini mulai keenakan bermain daripada sekolah.

Angka mengejutkan terungkap, Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan mencatat 36 anak memilih berhenti sekolah atau putus sekolah. Alasannya beragam mereka memilih putus sekolah, selain itu kondisi sulitnya ekonomi keluarga ikut menguatkan anak-anak memilih putus sekolah.

“Pembelajaran daring bikin anak-anak malas belajar. Karena itu sekolah tatap muka ini menjadi sangat penting. Jangan sampai nanti kita kehabisan momen mengembalikan gairah anak sekolah. Angka putus sekolah tinggi di jenjang sekolah menengah pertama (SMP) sederajat ada 31 orang dan 5 orang lagi dari sekolah dasar (SD). Ini jadi keprihatinan kita. Mereka sudah terbiasa daring. Pada saat pembelajaran tatap muka mulai lagi, mereka tidak mau masuk sekolah.”kata Budiyanto

Ditambahkan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan Budiyanto, jika melihat data kasus berhenti sekolah didominasi pelajar jenang SMP sederajat. Angka itu ditemukan merata di wilayah kecematan. Faktor penyebab pembelajaran dari rumah memicu anak kehilangan semangat belajar, didukung lagi kondisi ekonomi keluarga memburuk selama pandemi akhirnya memilih anak berhenti sekolah.

Kondisi itu menjadi tugas berat dunia pendidikan untuk bisa mengembalikan anak anak putus sekolah itu kembali mau bersekolah. Fakta ini harus menjadi perioritas perhatian pemerintah daerah untu segera ditindak lanjuti. Kemungkinan jumlah anak putus sekolah yang tidak sempat terdata lebih banyak.

"Pihak sekolah telah lakukan pendekatan dengan pihak orangtua dan anak agar mereka tetap mau di ajak masuk sekolah. Tapi tampaknya puluhan ini sudah kehilangan gairahnya untuk sekolah.”ungkap Kepala Dinas Pendidikan Budiyanto saat dikonfirmasi GrinduluFM.

Dengan kondisi riil yang terjadi di dunia pendidikan tersebut, bukan lagi hanya menjadi tanggung jawab tenaga pendidik akan tetapi wali murid pun harus ikut peduli bersikap segera.

“Semoga dengan adanya program merdeka belajar dan perekrutan tenaga pendidik P3K jadi solusi capaian wajib belajar segera ada solusinya.”tambah Budiyanto

Sampai saat ini meski 36 anak terdata memilih berhenti sekolah akan tetapi Budiyanto mengklaim, pihak Dindik terus memantau perkembangan anak agar bisa diajak kembali sekolah. Kalau bisa diarahkan ikut kejar paket.

“Dengan demikian semoga anak anak yang putus sekolah disaat pembelajaran tatap muka dimulai bisa ditekan.”pungkas Budiyanto

Editor: Asri

Blog, Updated at: 13.56
Tuliskan komentar positif Anda di bawah ini
03