Cukur Rambut Tradisional di Pasar Pon, Berkah Yang Tiada Habisnya

Posted by Radio Grindulu FM Pacitan 104,6 MHz on Kamis, Januari 27, 2022

GrinduluFM Pacitan - Begitu terdengar ramah dan sedikit melucu suara tukang cukur tradisional di pasar pon dalam menyambut pelanggannya datang.

Ya…, tahapan untuk meraih kesuksesan itu panjang. Dari persiapan, percobaan, ujian dan kemenangan. Kata kata semangat ini pas untuk 6 tukang cukur tradisonal yang tak gentar tergerus seiring menjamurnya cukur rambut modern atau lebih akrab dengan sebutan Barbershop.

Setiap datang pasaran Pon membawa berkah tersendiri bagi tukang cukur rambut yang mangkal di lapak pasar pon tempat jual beli hewan ternak.

Bukan di salon atau di ruang tembok dan berkaca dengan alat pangkas modern, cukur rambut tradisional ini berada di ruang terbuka tanpa sekat, setiap tukang cukur menyediakan kaca pengilon untuk digunakan mengoreksi hasil potong rambutnya.

Selain ramainya orang datang ke pasar pon untuk jual beli hewan ternak kambing dan sapi, kita akan jumpai lapak khusus mangkalnya tukang cukur rambut tradisional.

“Kalau yang muda-muda sudah memilih cukur rambut modern, kita siap menerima pelanggan yang usia tua-tua untuk merapikan rambutnya dengan alat potong sealakadarnya gunting dan juga mesin cukur sederhana.”kata Sumanto

Pasaran pon datang dalam satu putaran lima hari sekali, hal itu dimanfaatkan tukang cukur rambut tradisional untuk mencari pelanggan. Pasalnya, jika mengandalkan buka di rumah, tak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Sumanto 60 tahun warga asli pacitan memilih mangkal di pasar pon mengadu untung dengan ketrampilan yang dimilikinya memangkas rambut secara tradisional dengan alat pangkas rambut seadanya seperti gunting. Tidak heran, jika pelanggannya rata-rata berusia tua.

Terkadang mereka pulang membawa uang lebih dari Rp. 100 atau kadang juga hanya membawa uang Rp.20 ribu. Tukang cukur tradisional yang mangkal di pasar pon mengaku tidak pernah tidal membawa uang pulang. Meski hanya Rp.10 ribu insyaallah didapatnya.

Sulitnya kondisi itu, tidak membuat pupus semangat bagi ke 6 tukang cukur rambut tradisional untuk tetap menjalani profesinya yang memang tidak semua orang bisa melakoni.

“Kulo mboten sekolah, bisanya hanya potong rambut, itupun saya dapat secara otodidak. Awalnya coba-coba di rumah dan pelanggan tidak komplain, saya teruskan sampai sekarang menjadi mata pencaharian.”cerita Sumanto saat di temui GrinduluFM, Kamis, (27/01/2022)

Pada saat Sumanto buka praktek di pasar pon, pelanggannya sudah hapal dan langsung akan mencari ke pasar pon untuk minta dipotong rambutnya oleh Sumanto.

“Di pasar pon saya tidak sendiri. Ada 6 orang tukang cukur rambut yang mangkal. Alhamdulillah kami punya pelanggan sendiri sendiri.”ungkapnya

Jika Sumanto terpaksa bisa memotong rambut karena keadaan finansial yang sulit dan menuntutnya harus cari nafkah sebagai kepala keluarga, beda halnya dengan Ratman warga Sidoharjo Pacitan, menjadi tukang cukur rambut tradisional karena memang profesi turun temurun dari bapaknya almarhum.

Ratman bercerita, dirinya mangkal di pasar pon sejak tahun 1990 sampai tahun 2022, berarti perjalanan Ratman sebagai tukang cukur rambut sudah 32 tahun.

“Alhamdulillah berkah dari proesi pangkas rambut saya ini bisa mencukupi kebutuhan keluarga.”katanya

Ratman menuturkan, tidak sekolah khusus potong rambut, akan tetapi saat bapaknya memotong rambut, dia suka melihat sehingga teknik memangkas rambut bapaknya pun ditirunya dan dapat dijadikan bekal untuk bertahan hidup bersama isteri dan kedua anaknya.

Pernah dalam sehari hanya ada 1 orang yang memotong rambut di pasar pon, akan tetapi kondisi itu disikapinya denga legowo. Namun pelanggan akan lebih ramai kalau mendekati lebaran.

“Pernah saya hanya dapat 1 pelanggan saja sejak pukul 07.00 sampai pukul 10.00 Wib, namun saya tidak berkecil hati. Tetap di setiap pasaran pon saya sudah standby pukul 06.30 WIB di lapak potong rambut.”tuturnya

Pelanggan potong rambut biasanya akan memilih dan mencari tempat langganannya masing-masing. Ada sekitar 6 orang cukur rambut tradisional di pasar pon Kabupaten Pacitan dan dibagi dua lapak. Per lapak dipakai 3 orang. Siapapun yang ingin potong rambut tinggal memilih siapa yang dicocoki. Dalam sekali pangkas rambut mereka memberi tarif Rp. 10 ribu.

“Saya hanya menggunakan gunting dan mesin cukur rambut seadanya. Untuk karcis pengguna lapak, kami hanya bayar 5 ribu saja.”ujarnya

Dwi salah satu warga sambong yang memilih potong rambut dipasar pon mengatakan, tidak mau antri dan pinginnya hanya rambutnya jadi rapi.

“Merasa rambut saya kok sudah gondrong, tak lihat di dekat rumah tutup, saya pilih ke pasar pon saja untuk memotong rambut gondrong saya ini. Ya hasilnya seperti ini. Saya puas yang penting rapi.”ujar Dwi

Begitulah kondisi tukang cukur rambut tradisional yang masih terus dibutuhkan orang seiring pertumbuhan rambut manusia yang tak henti memanjang, begitu pula berkah profesi tukang cukur rambut tradisional ini juga tak ada habisnya. 

Editor: Asri N

Blog, Updated at: 14.20
Tuliskan komentar positif Anda di bawah ini
03