Sempat Meledak Kasusnya Di Pacitan, Leptospirosis Tak Kalah Bahaya dari Coronavirus, Muncul Lagi Seminggu Terakhir, 6 Orang Sudah Terinfeksi

Posted by Radio GrinduluFM Pacitan - 104,6 MHz on Jumat, 19 Maret 2021

Grindulu FM, Pacitan - Masih ingat Kasus leptospirosis? Penyakit yang di sebabkan bakteri kencing tikus, memang tidak bisa di sepelekan kemunculannya di Pacitan. Pasalnya, pada tahun 2017 kasus ini pernah meledak jumlahnya sehingga menjadi kasus penyakit yang cukup serius untuk diperhatikan oleh Dinas Kesehatan waktu itu. Pada tahun 2019 justru ada laporan 1 orang yang meninggal dunia dan tahun 2020 lalu sempat tuntas disembuhkan, namun pada minggu terakhir di bulan Maret 2021 kali ini kasus baru kembali ditemukan di sejumlah wilayah Kecamatan di Kabupaten Pacitan. Ratna pun tidak berharap disaat pandemik Covid-19 belum tuntas, penyakit karena kencing tikus ini justru ikut ikutan meledak.
Pada tahun 2020 kemarin Pacitan tercatat menemukan 104 orang yang terkena penyakit leptospirosis. Seminggu terakhir di bulan Maret 2021 kembali ditemukan dinas kesehatan dalam hal ini bidang p2pl ada 6 warga yang terindikasi ke arah leptospirosis yakni 2 warga dari Kalipelus, 1 warga dari Mantren, 1 warga dari Sidomulyo dan 2 warga dari Gembuk Ketro.
 
Plt. Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan, Ratna Susy Rahayu menjelaskan, penyakit zoonosa yang disebabkan infeksi bakteri leptospira berbetuk spiral itu ditularkan langsung dan tidak langsung dari hewan ke manusia. “Penyakit ini ditularkan melalui air seni tikus yang mengandung kuman lepto. Tidak hanya tikus diarea sawah saja tapi tikus diperumahanpun harus diwaspadai bisa menularkan. Karena itu pola hidup bersih, biasakan cuci tangan, disiplin dilakukan dalam kehidupan sehari hari.”jelas Ratna.
 
Untuk warga yang berkecimpung dengan air seperti di sawah, sungai untuk lebih waspada sebab resiko penularan air kencing tikus ini lebih resiko berada di genangan air, sungai dan selokan. Adapun gejala yang biasa ditimbulkan dari penyakit leptospirosis ini ada dua yaitu gejala ringan dan gejala berat. Gejala ringan misal, menunjukan gejala demam akut dengan atau tanpa sakit kepala disertai nyeri otot, lemah dengan atau tanpa conjugtival suffusion(mata merah tanpa eksudat) dan ada riwayat kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi leptospirosis. 
 
 “Kembali ini kita harus ber PHBS Pola Hidup Bersih dan Sehat karena sekarang ini tidak hanya tikus sawah tapi juga tikus rumahan. Pekerja di sawah harus perhatikan alat pelindung diri saat panen seperti saat ini apalagi dalam tubuh kita ada luka akan lebih cepat menular.”ungkap Ratna. 
 
Adapun yang bergejala berat diantaranya dengan menunjukan gejala nyeri betis, ikterus, sedikit air kencing dan ruam kulit. “Jika mengalami gejala gejala tersebut baik ringan maupun berat dan riwayat terpapar dengan air banjir, tanah becek atau lumpur dalam waktu 2 minggu sebelum sakit maka segera berobat ke Puskesmas atau sarana kesehatan terdekat.”pungkas Ratna 
.
 
 Editor : Asri Nuryani

Blog, Updated at: 13.55
Comments
0 Comments