Tengah Malam Tanpa Penerangan dan Penuh Rasa Khawatir, Kisah Priyadi Tukang Kubur Jenazah Covid-19

Posted by Radio GrinduluFM Pacitan - 104,6 MHz on Selasa, 26 Januari 2021

Grindulu FM, Pacitan -Pandemi Covid-19 ternyata tidak hanya membuat petugas kesehatan saja yang harus sibuk dan kerja lembur akan tetapi tukang pembawa jenazah hingga petugas pemakaman pun ikut sibuk dan harus lembur. Tidak berlebihan memang, untuk tugas itu harus butuh orang yang memang siap. Apalagi Virus Corona saat ini sedang menjadi momok bagi masyarakat. Seperti di ketahui, korban meninggal dunia akibat Covid-19 di Pacitan sudah mencapai 39 orang. Akan terasa berat apabila jenazah terkadang harus di makamkan pada tengah malam. Bahkan pernah pemakaman di laksanakan tengah malam dengan kondisi tanpa siapapun kecuali petugas pemakaman ditambahlagi hujan deras dan gelap gulita tanpa lampu penerangan. Sesuai aturan jenazah yang dinyatakan positif Covid-19 sesuai SOP pemakaman harus di lakukan segera tidak diperbolehkan menunggu terlalu lama.

                                      

Namanya Priyadi laki laki usia 33 tahun bertubuh kurus berkulit sawo matang, bapak dari satu anak  warga Desa Bangunsari ini , salahsatu dari 6 orang yang ikut jadi relawan untuk memakamkan jenazah covid-19 di Pacitan. Semenjak Pandemi Covid-19 dia diajak temannya bergabung sebagai relawan petugas pemakaman khusus jenazah Covid-19 Desa Bangunsari.
Meskipun resikonya sangat berat mulai dari tertular dan bakal dijauhi keluarga atau lingkungannya, tapi Priyadi tetap terpanggil jiwanya ikut memakamkan jenazah covid-19 yang banyak di takuti karena virusnya yang ganas.

Pekerjaan mengurus jenazah Covid-19 bisa dia lakukan dengan baik karena sering diajak atau dimintai bantuan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah(BPBD)Pacitan Didik Alih Wibowo saat menangani Wisma Atlit rumah karantina pasien Covid-19 tanpa gejala.
Suka duka dari petugas pemakanan pasti ada. Lanjut Priyadi,  itu jika pasien meninggalnya malam hari, belum lagi kalau hujan deras dan tanpa lampu penerangan. Sudah begitu dia dan ke 6 rekannya harus menggunakan baju Hazma, pokoknya semua harus di jalani ikhlas kata Priyadi.
“Waktu tengah malam hujan lagi, dan tidak ada lampu penerangan sama sekali di lokasi makam, itulah yang menjadi duka kami jika ditanya suka dukanya. Sukanya ya...kami merasakan imunitas kami justru seakan akan terjaga dari virus corona sebab kami kerja ikhlas.”cerita Priyadi
Jujur awalnya, ada rasa khawatir, was was yang di rasakan Priyadi, kalau tertular karena memegang langsung tubuh jenasah Covid 19 juga muncul dalampikirannya. Bahkan keluarga  dan isterinya juga sempat khawatir soal tugasnya itu. Akan tetapi dengan penjelasan dari Priyadi ternyata istrinya memahami begitu juga kleuarga besarnya.

Priyadi yang keseharian hanya sebagai buruh serabutan ini kembali menuturkan, sudah tiga kali dirinya diajak memakamkan jenazah Covid-19. Saat pemakaman itu, priyadi dan kelima temannya harus betah dengan masker rangkap tiga yang di kenakannya dan APD Level 3 atau baju hazmat dan sarung tangan yang membalut tubuh kecilnya. Semua dilakoni demi rasa kemanusiaan yang tertanam sejak dia niat bergabung dalam tim relawan pemakaman khusus jenasah Covid-19.

“Saya memakai tiga masker dobel sekaligus menggunakan APD yang dikasih sama petugas kesehatan. Setelah menguburkan jenasah, saya langsung lepas itu baju APD dan langsung di buang di makam  itu  juga untuk kemudian saya di semprot disinfektan.”tutur Priyadi
Dalam setiap pemakaman tidak ada siapa siapa, kecuali ke lima temannya sesama relawan, tida ada keluarga jenazah ataupun pemuka agama yang menghantar.

Pemakaman yang di lakukan Priyadi tidak hanya di wilayah  Pacitan kota saja akan tetapi juga ke wilayah Bandar sesuai permintaan dan lokasi rumah pasien.
“Setiapkali saya selesai menguburkan jenazah Covid-19, saya pulang kerumah langsung ke belakang dan mandi besar membersihkan diri sebelum kemudian bertemu dengan anak dan isteri saya”tutur Priyadi
Dalam menjalankan tugasnya itu, Priyadi di temani oleh 6 rekannya. Dia kadang mendapatkan upah namun jika tidak dibayar juga tidak apa apa. Priyadi tetap ikhlas dan senang bergabung dalam relawan pemakaman khusus jenazah Covid-19.

“Dari Dinas Kesehatan saya dibayar Rp.300.000 per pemakaman. Kenapa harus takut, Petugas medis telah membungkus jenazah sesuai SOP pemakanan jenazah dan hal itu diketahuinya tidak berbahaya apalagi menularkan virus corona. Buktinya, sudah tiga kali saya menguburkan jenazah Covid-19 tidak pernah merasakan greges atau pilek batuk dan demam. Alhamdulillah, begitu juga anak dan isteri saya semua sehat sehat saja sampai sekarang.”pungkas Priyadi



Editor : Asri Nuryani


Blog, Updated at: 14.04
Comments
0 Comments