Pengamat Politik : Pilkada 2020 Di Pacitan Jadi Pertaruhan Sengit Semua Parpol

Posted by Radio GrinduluFM Pacitan - 104,6 MHz on Rabu, 12 Agustus 2020

Grindulu FM, Pacitan - Pengamat Politik  Doktor Mukodi, M.Si. mengatakan, sebagai kaum akademisi yang berhubungan dengan grassroot atau gerakan akar rumput menilai moment pilkada di pacitan adalah moment semua partai politik peserta pemilu  terutama bagi partai Demokrat yang  beberapa dekade ini menjadi partai politik dominan di Pacitan karena sosok SBY.

Munculnya sosok baru dalam calon pasangan Bupati dan Calon Wakil Bupati pada Pilkada 2020 yang sudah diumum kan ke publik untuk didukung PKB, PDIP dan Nasdem tentu tidak bisa dipandang sebelah mata.

Seperti diketahui bersama partai demokrat sampai saat ini masih wait and see atau menunggu rekom dari DPP dalam kontek SBY dan AHY dalam menentukan  siapa Cabup dan Cawabup-nya,. Sudah sangat jelas  dalam Pilkada di pacitan  selama ini untuk AE-1 dan AE-2 selalu diambil dari satu partai politik yang sama, Cuma hitung hitungan kalkulasi saat ini ketika AE-1 dan AE-2  dipaksakan oleh demokrat untuk menggunakan baju sama, akan menjadi agak berat di kontestan pilkada tahun 2020 ini. Mestinya tentu demokrat secara bijak berkoalisi, kalau dipaksakan tentu lawannya akan ada pertarungan yang sengit.

“Pandangan kami kayaknya berat di kontestan pilkada tahun 2020 ini. kalau di paksakan pasangan diambil dari baju yang sama, tentu lawannya akan ada pertarungan yang sengit, saya kira”Analisa Mukhodi.

Persoalannya, ini karena arus politik itu dinamis mulai dari Jakarta sampai ke Daerah. Apalagi lanjut mukhodi, sekarang nama SBY pengaruhnya tidak sekuat dulu lagi. Memang di akui Mukhodi  jika nama SBY masih berpengaruh tapi tidak sekuat dulu. Tapi harus ada rasa legowo bagi demokrat untuk memilih pasangan Cawabup itu nanti dari partai politik lain. Karena itu akan jadi kekuatan bagi Demokrat dengan kondisi di era sekarang ini.

“Saya kira nama SBY masih berpengaruh di eranya. Tapi sekarang berbeda. Di era dimana anak anak muda  sekarang ini, figur bukan lagi jadi popularitas. Anak muda itu  tidak suka ditekan.”Tutur Wakil Rektor STKIP ini.

Selain itu Mukhodi juga memberikan masukan untuk pasangan duet cabup dan cawabup harus  memilih usia tua muda. Selain  itu nasionalis- religius itu  harus jadi perhatian. Tidak hanya itu saja, sejauh mana pasangan cabup cawabup mempunyai elektoral dan popularitas ini menjadi penting. Meski diakui ini agak susah bagi semua partai politik. Tapi mudah atau tidak mudah,  semua parpol membutuhkan hal itu.

Sengitnya  pertaruhan partai politik dalam pilkada tahun ini dibutuhkan energi lebih bagi masing masing pasangan calon untuk bisa mempopularitaskan diri di hadapan rakyat  pacitan  yang akan memberikan hak  suaranya pada  09 Desember mendatang.

“Di era pandemi covid-19 sebenarnya justru  banyak momentum bagi pasangan calon untuk bisa mempopularitas kan diri dengan pasangan dan memulai grassroot.”Jelas Mukhodi.

Lalu seperti apa dari hasil grassroot  akademisi, sosok pemimpin pacitan secara kasat mata yang akan dapat rekom dari Demokrat,.apakah kader masih sangat dibutuhkan. Analisa mukhodi, kader itu bukan jaminan meski yang utama kalau gimik gimiknya saat ini. Tapi yang paling penting secara kasat mata itu yang diinginkan bagaimana kader yang punya elektoral yang bagus, .punya popularitas yang bagus dan bergrassroot itu yang dicari. Ketika memang kalkulasinya kader tidak punya elektoral yang bagus tidak punya popularitas yang bagus tentu demokrat akan melihat misalnya cendekia atau dari non partai politik tapi bisa dari profesional berkarakter. Sekarang kader bukan lagi jaminan.

“Grassroot jadi penting. Suara satu memiliki hak sama, itu sangat menentukan  nanti.”Ujar Mukhodi.

Ditambahkan Mukhodi, dalam pilkada kali ini masing masing calon punya peluang tapi sejauhmana peluang itu tinggi atau daya dobraknya masih di kalkulasi parpol itu punya mesin sendiri.

Sekarang ini bergrassroot itu juga sangat penting. Yang tidak kalah penting lagi sejauhmana masing masing pasangan calon punya modal kapital yang cukup.

Seperti diketahui, Komisi Pemilihan Umum  membuka pendaftaran  Calon Kepala Daerah serentak pada 4-6 September mendatang. Sedangkan masa kampanye mulai 26 September dan pemungutan suara pada 9 Desember. 

 

 

Editor : Asrinuryani

Blog, Updated at: 13.13
Comments
0 Comments