Prosesi Hari Jadi Harus Ada Mengandung Nilai Sakral

Posted by Radio GrinduluFM Pacitan - 104,6 MHz on Kamis, 20 Februari 2020

Grindulu FM, Pacitan - Narasi Sejarah Pacitan harus disampaikan dengan benar. Meski hanya sedikit saja untuk sekedar warga tahu sejarah yang benar asal usulnya Kutho Pacitan dalam setiap Prosesi Hari Jadi.  Selain itu sakralnya benar benar harus ditepati.

Mamik budayawan sekaligus sesepuh Pacitan mewanti wanti jangan sampai salah dalam memberikan pengetahuan sejarah tentang pacitan kepada warga yang memang belum tahu betul sejarah pacitan.terutama bagi para pelajar. 
Mbah Mamik  saat bertugas menyerahkan Tirto Wening Kepada Bupati Pacitan
di acara  Hari Jadi Pacitan Ke 275
“E..seksenono bumi sak isine suk nek dadi kutho jenengno kutho pacitan soko budal soko roso soko rucuh pace karo mangan ketan.” Tutur Mamik.

Rucuh Pace dan Tirto Wening merupakan rangkaian yang tak terpisahkan jangan sampai ditiadakan. Harus ada dalam setiap prosesi. Dalam atur tirto wening mamik bertugas sebagai penerima dari parogo yang disampaikan pada Bupati.

Iring iringan Parogo Pembawa Tirto Wening
foto : Grindulufm-asri
Dilanjutkan mamik, kirab pusaka juga merupakan kegiatan budaya yang dinilainya sakral.
Ditambahkan Mamik , kalau bicara nama pacitan  hanya dari suroketipo sampai sekarang ini. Tapi untuk sebelumnya itu Wengker. 

Wengker itu artinya wewengkone kraton (Panah). Dimana Pacitan itu terdiri dari empat  penjuru. 
Pacitan Timur wilyahnya Banyuwangi Kraton Blambangan. Pacitan ke utara wilayahnya Kediri dengan Singosari Mojopahit,terus pacitan kebarat adalah Pakubuwono dan Hamengkubuwono.



Reporter : asrinury

Blog, Updated at: 10.55
Comments
0 Comments