Isu dapur MBG yang dikelola tidak
baik memang sedang menjadi perhatian serius. Program yang menyasar jutaan siswa
ini menuntut kewaspadaan tinggi agar setiap porsi yang sampai ke meja makan
benar-benar aman dan bernutrisi.
Kejadian mbg keracunan sering
kali dipicu oleh rantai distribusi yang panjang atau standar kebersihan dapur
yang belum memenuhi kriteria baku. Hal ini tentu membuat orang tua atau
pendidik merasa khawatir akan keselamatan anak-anak di sekolah.
Oleh karena itu Ronny Wahyono
selalu wanti-wanti dan tidak mengharapkan SPPG bekerja jelek tapi mengharapkan
dapur MBG dikelola dengan baik sehingga bisa memberikan manfaat yang
sebesar-besarnya untuk masyarakat Pacitan.
“Kalau memang nanti ada yang kurang baik tolong laporkan pada kami
coba kita bicarakan kepada pengelola kita berikan waktu pembenahan, kalau tidak
bisa dibenahi kita laporkan kepada yang berwenang,”katanya saat dikonfirmasi,
Sabtu (11/4/2026).
Catatan penting Ronny Wahyono bagi SPPG bekerjalah sebaik-baiknya
karena semua sudah dibayar.
“Yang kita harapkan bekerja secara professional. Makanan diberikan
diawal seharusnya tidak ada kendala. Koordinasi aktip itu wajib, mungkin di
dapur baik tapi dipengiriman terlalu lama akhirnya bisa merusak makanan. Semua
harus terpantau dengan baik. Masyarakat harus ikut mengedukasi jangan sampai
salah informasi yang justru bisa memunculkan kegaduhan di medsos,”harapnya.
Sekabupaten Pacitan data per 31 Maret 2026 terdapat 34 Satuan
Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sudah berjalan dan 6 persiapan untuk berjalan, ada yang masih
proses pembangunan. Sehingga total di Pacitan saat ini ada 40 Satuan Pelayanan
Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berjalan.
Reporter:Asri

