Sayangnya, seringkali tindakan bullying dianggap sebagai hal yang biasa. Padahal, tindakan ini dapat menghambat proses belajar dan tumbuh kembang anak.
Di Pacitan, tidak sedikit juga anak yang pingin pindah sekolah dan bahkan tidak mau ke sekolah karena merasa jadi korban bullying. Mereka merasa takut dan tidak aman di lingkungan sekolah karena sering diintimidasi dan diejek oleh teman sebayanya.
Beberapa anak bahkan mengalami trauma dan mengalami gangguan emosional yang serius. Psikolog Klinis terdekat di sekitar Kabupaten Pacitan dengan keahlian remaja dan anak berkebutuhan khusus, Ni Made Diyah Rinawardani, S.Psi., M.Psi, mengatakan masalah ini menjadi semakin memprihatinkan karena mereka kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Beberapa hari terakhir ini mulai banyak yang datang ke tempat layanan Netara Rumah Psikologi dengan kasus sama mogok sekolah. Terbanyak usia sekolah SMP dan SMA dengan kasus sama tidak mau sekolah, maunya pindah sekolah.
“Kasus hari ini semua mogok sekolah. Mau pindah sekolah, merasa dibully, gak nyaman,”ujarnya.
Ni Made Dyah Rinawardani menegaskan kondisi tersebut jangan dianggap sepele. Orang tua harus segera bertindak untuk menguatkan kesehatan mental anak, jangan sering mengabaikan.
Menjaga kesehatan mental anak jadi hal penting yang harus diperhatikan oleh kedua orangtua? Bukan tanpa alasan, kesehatan mental yang baik dan terjaga memungkinkan anak untuk berpikir jernih, berkonsentrasi, berkembang lebih baik secara sosial dan lebih mudah mempelajari keterampilan baru.
“Tidak hanya kesehatan fisik, kesehatan mental anak juga harus menjadi perhatian orangtua. Ini berpengaruh terhadap kesehatan fisik, perkembangan emosi, dan kehidupan sosial anak.”tegasnya.
Reporter:Asri

