Rata-rata terjadi puluhan hingga ratusan kali gempa dengan berbagai variasi magnitudo (M) dan kedalaman hiposenter dalam setiap bulannya.
Hasil monitoring gempa oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan menunjukkan, setidaknya ada 1025 kali gempa yang mengguncang wilayah Pacitan dalam setahun 2025. Dengan magnitudo dan kedalaman yang bervariasi.
Data BMKG menunjukkan, ada peningkatan aktivitas gempa di bulan Mei pada tahun 2025, sebanyak 134 kali.
EWS (Early Warning System) atau Peringatan Kebencanaan Dini yang dipasang di Pacitan menurut Erwin, semuanya masih dalam kondisi normal.
“EWS gempa bumi tsunami tanah gerak sesar grindulu yang kita pasang di Cuwek, Sidoharjo, Kembang dan Watukarung semuanya dalam kondisi normal dan masih aktip tetap dalam pantauan kami terus,”ujarnya.
Rambu-rambu tsunami sudah terpasang semua di jalur evakuasi sesuai yang sudah dipetakan.
Kesempatan sama, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jatim, Gatot Soebroto saat berkunjung ke Pacitan menegaskan bahwa Pacitan itu fokus utamanya adalah tsunami karena Pacitan itu rendah tapi antisipasi bencana lain harus diperhatikan jangan diabaikan sehingga Provinsi ada perioritas ke Pacitan seperti rambu evakuasi dan pemasangan EWS.
“Ini semua jadi perioritas Ibu Gubernur untuk antisipasi potensi yang bisa berdampak pada masyarakat caranya dengan berikan edukasi melakukan sosialisasi kelapangan, anak kecil di sekolah diberi edukasi lalu kelengkapan sarana prasarana penunjang yang belum ada rambu-rambu evakuasi diapasang. Bagi daerah yang belum ada EWS diusulkan segera untuk dipasang,”tegasnya.
Namun yang harus menjadi perhatian pemerintah dan terpenting adalah ketangguhan masyarakatnya.
Perlunya dibuat destana untuk daerah yang punya potensi ancaman seperti Pacitan ini masuk daerah punya potensi ancaman bencana karena itu akan menjadi perioritas perhatian pemerintah provinsi.
“Kalau melihat kondisi pacitan yang punya kerentanan tinggi terhadap bencana kita berharap keadaan masyarakatnya untuk selalu meningkatkan kapasitas dirinya dengan cara mengikuti perkembangan kondisi terkini. Kedua jangan lupa sediakan tas siaga bencana. Masyarakat bisa memanfaatkan aplikasi inaris BNPB itu terbuka untuk semua pihak. Semua ini dilakukan untuk meminimalisir dampak ancaman bencana,”jelasnya.
Reporter:Asri

