Tak Ingin Kecolongan Lagi Berjatuhan Korban Jiwa, Pemkab Pacitan Gencarkan Cegah Leptospirosis

Posted by Radio Grindulu FM Pacitan 104,6 MHz on Senin, Januari 29, 2024

GrinduluFM Pacitan - Masih terekam dalam ingatan warga Pacitan memasuki bulan Maret 2023 lalu dimana 9 Kecamatan di Kabupaten dilanda kasus leptospirosis bahkan dinyatakan 6 orang meninggal dunia disebabkan bakteri leptospira berasal dari kencing tikus dan setdaknya 144 warga dnyatakan terjangkit.

Tak ingin lagi kecolongan seperti tahun 2023 lalu, saat masuk musim penghujan bersamaan dengan dimulainya MT 1 awal 2024 dimana para petani mulai menggarap sawahnya, Pemkab Pacitan dalam hal ini Dinas Kesehatan maupun Rumah Sakit Umum Daerah dr.darsono Pacitan mulai gencar sosialisasi ingatkan warga untuk waspada terhadap penyakit leptospirosis.

Tidak berlebihan memang hal itu dilakukan untuk pencegahan dini atau sedia payung belum hujan sekaligus memutus mata rantai penyebaran leptospirosis terjadi di wialyah pacitan.

Sosialisasi Flayer lebih masif dilakukan melalui Story WhatsApp.

Hampir bersamaan seluruh pejabat dan ASN Pemkab Pacitan terbaca story WhatsApp nya dipasang flayer waspada!! leptospirosis.

Tidak berlebihan upaya yang dilakukan Pemkab Pacitan tersebut mengingat Pacitan merupakan daerah endemis Leptospirosis. Setidaknya dari tahun ketahun saat musim hujan tiba muncul penderita dan korban meninggal dunia. Bahkan tahun 2023 lalu sempat menjadi sorotan hangat tingkat nasional akibat warga yang terjangkit mencapai ratusan.

Sampai saat ini akhir Januari 2024, Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan mengklaim belum terima laporan adanya warga terjangkit leptospirosis. Seperti dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan dr. Daru Mustikoaji saat dikonfirmasi Senin 29 Januari 2024.

“Belum ada laporan masuk terkait penderita leptospirosis berdasarkan laporan masuk dari 24 Puskesmas.”katanya.

Nihilnya kasus leptospirosis di pacitan memasuki awal tahun berbarengan dengan masuknya musim penghujan 2024 kali ini juga dikuatkan pihak rumah sakit umum daerah dr. Darsono Pacitan.

dr. Johan Tri Putranto Humas RSUD dr. Darsono Pacitan mengatakan hingga saat ini masih nihil pasien leptospirosis.

Humas RSUD dr. Darsono Johan Tri Putranto mengajak warga untuk melakukan pencegahan leptospirosis dengan buang sampah pada tempatnya. Tutup agar sampah dan baunya tidak bisa dijangkau hewan. Pakai sepatu dan sarung tangan karet saat membersihkan kotoran dna air genangan banjir. Tutup sumber air untuk konsumsi kuras secara berkala. Cuci tangan dengan sabun atau disinfektan lainnya.

Jika warga merasakan gejala leptospirosis gejala awal mirip dengan demam berdarah dengue seperti demam tinggi hingga menggigil, nyeri kepala, sakit tenggorokan disertai batuk kering, kulit menguningdan mata menjadi merah, nyeri otot khususnya di betis dan mual hingga muntah disertai diare segera pergi ke pelayanan kesehatan terdekat.

“Semua hewan berdarah panas berpotensi tertular atau menularkan leptospirosis. Leptospirosis akan berakibat fatal apabila telat penanganan.”ujar dr. Johan.

Kepala Dinas Kesehatan dr. Daru Mustikoaji menerangkan leptospirosis penyakit akibat kontak dengan kencing tikus atau hewan lain yang terinfeksi bakteri leptospira.

“Cara penyebaran bisa melalui banjir dan genangan air, sampah menumpuk, tikus atau hewan lain yang berkeliaran.”terang dr.Daru.

Reporter:Asri

Blog, Updated at: 14.43
Tinggalkan komentar positif Anda di sini
03