Masih Tinggi ! Kasus TBC dan HIV Di Pacitan Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

Posted by Radio Grindulu FM Pacitan - 104,6 MHz on Kamis, 02 September 2021

Grindulu FM Pacitan - Kasus Tubrculosis (TBC) di Kabupaten Pacitan setiap tahunnya masih tinggi. Sebelum ada pandemi Covid-19 pemkab pacitan perioritaskan TBC sebagai penyakit menular yang harus diperhatikan serius. Namun seiring datangnya wabah pandemi Covid-19 penyakit TBC terabaikan. “TBC yang perlu di waspadai sedikit terabaikan karena saat ini orang lebih terkonsentrasi ke Covid-19, padahal TBC selalu berkolaborasi dengan HIV.”kata Plt.Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan dokter Hendra Purwaka melalui Kasi P2PL Dinas Kesehatan Aris Istianah.


Data dinas kesehatan menyebutkan, kasus baru perbulan masih ditemukan sekitar 10-15 kasus. Rata rata pertahunnya ada 170-200 kasus baru TBC. Sedangkan 1 dari seribu penduduk itu beresiko. Selama 7 bulan terakhir ini saja sudah ditemukan 60 orang terinfeksi kuman Mycobacterium Meski penyakit TBC masih tinggi, namun saat ini tersisih perhatiannya, kalah tenar dengan pandemi Covid-19 yang merupakan penyakit baru. Ditambahkan Aris, realitanya di pacitan itu kasus TBC selalu berkolaborasi dengan HIV. Sudah hampir 16 tahun HIV menjadi penyakit menular yang tidak boleh diabaikan di pacitan. Mengingat angka kasusnya bagaikan fenomena gunung es. Untuk Wilayah Pacitan penyebaran TBC masih didominasi perkotaan karena memang padatnya penduduk menjadi salah satu faktor penyebab. 

Sementara data Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan menyebutkan, data HIV selama 3 tahun terakhir mencapai 80 orang. Rentang tahun 2018-2020 terus merangkak naik. Dari tahun 2018 ditemukan 23 kasus, tahun 2019 ada 39 kasus, tahun 2020 ditemukan 18 kasus. “Dari laporan 24 puskesmas yang ada di kabupaten pacitan tertinggi ada di Desa Tanjungsari sejumlah 16 orang kena HIV, lalu urutan kedua ada di Ngadirojo, Sudimoro dan Tegalombo, masing-masing ditemukan 7 kasus HIV.”ujar Aris.

Dilanjutkan Aris, penyakit TBC itu jika dilihat dari rentang umur semuanya bisa terkena. Tapi pada usia produktip memang lebih rentan. Kunci cegah tangkalnya sejak dini sudah harus ada proteksi. Jika ada gejala batuk lebih dari 7 hari, berkeringat saat malam hari meski tanpa aktivitas, dan berat badan turun drastis, maka perlu diwaspadai kuman tuberkulosisnya.

Selain itu untuk pencegahan diharap masyarakat memberikan ruang ventilasi yang baik agar ada serapan sinar matahari kedalam rumah agar bakteri kuman Mycobacterium tidak berternak di dalam rumah. “Perlu jadi perhatian terutama gejala batuk lebih dari 7 hari, berkeringat tanpa sebab, berat badan turun drastis lebih dari 10 persen perlu kita curiga ke arah bakteri tuberkulosis. Kurangnya sinar matahari juga mendukung beternaknya bakteri TBC di rumah kita.”terang Aris Istianah.

Editor : Asri Nuryani

Blog, Updated at: 12.53
Comments
0 Comments