BMKG Peringatkan Potensi Tsunami Pilih SkenarioTerburuk Untuk Pacitan

Posted by Radio Grindulu FM Pacitan - 104,6 MHz on Minggu, 12 September 2021

Grindulu FM Pacitan - Dari analisis berdasar data-data analisis permodelan gempa dan tsunami BMKG memilih skenario terburuk. “Namanya skenario, skenario itu belum pasti terjadi ya.”kata Dwikorita Karnawati Kepala BMKG. Dalam skenario terburuk itu gelombang tsunami 28 meter wilayah tepi pantai, waktu datangnya 30 menit, sampai di pesisir pantai tinggi genangan 15 sampai 16 meter, waktu tiba genangan 30 menit, itu potensi dan belum tentu terjadi. Semoga tidak terjadi. “Karena itu kami sengaja dipilih itu skenario terburuk untuk latihan. Kalau latihannya sudah terburuk.kalau nanti terjadinya kurang dari itu diharapkan semakin cekatan terampil untuk penyelamatan diri, seperti itu.”tambah Dwikorita.

Melihat kondisi pacitan yang memiliki dampak terbesar dari gempa dahsyat 8,7 SR dan tsunami, begitu juga diperkirakan genangan gelombang tsunami sampai ke aloon aloon titik tengah kota pacitan sekitar 7 meter, maka kalau untuk lari perlu waktu lama. Padahal waktu tersisa hanya 30 menit. BMKG merekomendasikan perlu dibuatkan jalur evakuasi sementara yang jelas dengan rambu rambu agar bisa segera naik ke atas karena jarak tingginya bagian tengah butuh waktu lama. Kalau yang dekat bukit bisa langsung naik ke ketinggian.

“Perlu tempat evakuasi sementara agar bisa segera naik ke atas karena jaraknya ketinggian untuk bagian tengah atau aloon aloon butuh lama karena itu butuh tenpat evakuasi sementara yang vertikal. Dan jangan lupa ya warga di pacitan sering sering latihan simulasi penyelamatan diri.”imbuh Dwikorita.

Saat disinggung keberadaan EWS (Early Warning System) di pacitan yang rusak tidak berfungsi, Kepala BMKG menjelaskan, untuk hal itu sudah koordinasi sejak kejadian gempa terakhir mengguncang pacitan “kami sudah menyiapkan alat peringatan dini tsunami melalui BPBD dari BPBD disebarkan ke masyarakat melalui sinyal atau HT. Jadi memang rantai nya dari BPBD ke masyarakat bisa melalui mobile handphone, jangan hanya satu jalan saya tapi harus ada alternatip lain. Terakhir ini kita cek dengan Ht lancar. Jadi jangan bergantung pada listrik yang kemungkinan terbesar saat gempa tsunami aliran akan padam.”lanjut Dwikorita.

Melihat potensi megatrush dan tsunami di pacitan tidak boleh dipandang remeh, Dwikorita menjelaskan, kajian sudah banyak dilakukan oleh banyak pakar, tidak hanya BMKG, ITB, UGM pakar pakar sudah ada. Yang penting bagaimana menjabarkan kajian itu kedalam suatu aksi. Jangan terlalu banyak mengkaji mengkaji gak ada aksi. “Nah.., kami hari ini itu mentransformasikan kajian kedalam aksi. Skenario terburuk ketinggian adalah 28 meter waktu datangnya 29 menit dikurangi 5 menit untuk peringatan dini tinggal 24 menit. Lalu aksinya bagaimana, hari ini kita menjabarkan menjadi aksi untuk menyelamatkan masyarakat.”ujarnya.

Ditambahkan Dwikorita, banyak Pekerjaan Rumah yang masih harus diselesaikan dalam evakuasi penyelamatan warga dari dahsyatnya megatrusht dan tsunami di pacitan adalah bagaimana mengetes percepatan bergerak dari aloon aloon menuju bukit, sebab hasil kajian air mencaai 7 meter sampai aloon aloon, ini masih banyak ada 12 titik bisa dijangkau secara paralel, ini PR kita.”tutup Dwikorita.

Editor : Asri Nuryani

Blog, Updated at: 12.45
Comments
0 Comments