Banyak Kasus Pasien Penyakit Saluran Kemih, Tapi RSUD Tidak Punya Dokter Spesialis Bedah Urologi

Posted by Radio Grindulu FM Pacitan - 104,6 MHz on Jumat, 24 September 2021

Grindulu FM Pacitan - Meski pelayanan dan fasilitas pembangunan gedung selalu ditingkatkan namun Pemerintah Kabupaten Pacitan tetap tidak bisa berbuat banyak jika ada warga berpenyakit saluran kemih seperti batu ginjal, kandung kemih. Sebab, Rumah Sakit Umum Daerah dokter Darsono Pacitan hingga kini masih belum memiliki dokter spesialis bedah urologi.

Dokter Iman Darmawan, Direktur Utama RSUD dr.Darsono saat rapat dengar pendapat bersama komisi 2 DPRD Kabupaten Pacitan, Rabu (22/09/2021) mengatakan, tidak adanya dokter spesialis urologi tersebut mengharuskan rumah sakit merujuk pasien ke rumah sakit Mawardi Solo. “Kalau ada warga yang menderita penyakit saluran kemih termasuk batu ginjal cenderung langsung kita rujuk kerumah sakit besar. Kalau rumah sakit pacitan rujuknya ke solo rumah sakit mawardi yang bisa menggunakan akses BPJS.” kata dokter Iman.

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi 2 DPRD, dokter Iman Darmawan juga menyampaikan rencana peningkatan status rumah sakit dari tipe C ke Tipe B. Ada kendala dalam peningkatan status tersebut karena rumah sakit dr.darsono kapasitas tempat tidur baru 188tt, masih kurang dokter spesialisnya sehingga belum bisa naik status ke tipe B. Ditambahkan dokter Iman, saat ini rumah sakit tengah mengupayakan penempatan dokter spesialis. Menurutnya, meski pacitan merupakan daerah terpencil namun dokter spesialis tetap di butuhkan untuk penaganan penyakit dalam dan yang tegolong berat seperti kasus penyakit saluran kemih.
Untuk diketahui, dokter urologi adalah dokter spesialis yang menangani masalah kesehatan pada sistem saluran kemih, termasuk ginjal, kandung kemih, kelenjar adrenal dan saluran kemih itu sendiri. direktur utama RSUD dr. Darsono dr. Iman Darmawan juga menjelaskan, selain kekurangan dokter spesialis bedah urologi dan dokter spesialis kulit. RSUD juga masih belum punya spesialis Fisioterapi.

Diketahui, RSUD dr.darsono mempunyai peralatan fisioterapi tetapi untuk saat ini tidak memiliki dokter spesialis rehabilitasi medis. “Fisioterapi kita masih pinjam UNS, rs.mawardi, spesialis kulit kita juga belum punya.”jelas dr.Iman.

Dijelaskan dokter Iman di hadapan anggota Komis 2 DPRD Kabupaten Pacitan, memang untuk naik tingkat rumah sakit itu dari tipe C ke tipe B tetap menjadi indicator ada tidaknya penempatan dokter spesialis dalam rumah sakit bersangkutan. Sementara dalam kesempatan berbeda dr.Daru Mustikoaji Kepala Bidang Pelayanan RSUD dr.darsono Pacitan mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis bedah urologi ujarnya, telah disiapkan Bupati Pacitan, namun calon dokter spesialis itu sekarang masih sekolah. “Bukan menjadi masalah. Sebentar lagi terwujud pengadaannya, ini masih sekolah calon dokternya.”kata dokter Daru.

Sementara dari sisi pelayanan pihak rumah sakit mengklaim selalu upayakan peningkatan percepatan. Pelayanan rawat jalan sekarang sudah gunakan pendaftaran online, e-resep dan e-rm (pencatatan identitas pasien) mulai gunakan elektronik atau serba komputerisasi. “Sekarang tidak lagi manual semua komputerisasi untuk mempercepat pelayanan.”ungkap Kepala Bidang Pelayanan RSUD dr. Daru.

Lalu bagaimana kondisi pelayanan rumah sakit saat ini setelah bulan Juli lalu kasus pasien Covid-19 melonjak. Ujar dokter Ndaru sudah mulai tampak ada kenaikan meski tidak sebanyak sebelum ada Covid-19 tapi sudah mulai ada kenaikan kunjungan pasien. “Mulai naik meski tidak sebanyak sebelum pandemi. Sejak dua minggu sudah ada kenaikan pasien.”ujarnya.

Dalam penyampaian di rapat paripuran APBD-P 2021 dijelaskan, penurunan potensi pendapatan BLUD akibat karena pandemi Covid-19 sehingga jumlah kunjungan pasien baik itu pasien umum, pasien BPJS maupun pasien dengan penjamin lainnya mengalami penurunan. Dalam rapat dengar pendapat, anggota komisi 2 lebih memfokuskan pada pertanyaan masalah oksigen yang pernah terjadi kelangkaan pada saat masa genting lonjakan pasien Covid-19. “Tolong penjelasannya, mengapa hal itu bisa terjadi dan bagaimana saat ini. Sebab kami komisi 2 sebagai mitra RSUD siap mensuport dari sisi pengadaan oksigen itu.” kata Ketua Komisi 2 DPRD Lancur Susanto.

Dijawab dokter Iman, untuk masalah kelangkaan oksigen pada masa puncak lonjakan pasien covid-19 itu benar terjadi pada bulan Juli lalu. Sekarang mulai Agustus-September pengadaan oksigen kondisi membaik. Setiap 4-5 hari melakukan pengisian samator. “Tidak seperti pada bulan Juli, keterlambatan pengisian oksigen dari samator menyebabkan pasien meninggal dunia.”jawab dokter Iman.

Untuk tidak mengulangi kesalahan sama, saat ini diupayakan usulan pembelian generator oksigen. “Generator oksigen adalah alat atau mesin yang dapat menghasilkan oksigen o2 dengan tingkat kemurnian yang diinginkan.” kata dokter Iman.

Editor : Asri Nuryani

Blog, Updated at: 15.12
Comments
0 Comments