Profesi Langka, Sudirno Pengukir Uang Kertas RI Disambangi Kapolres Pacitan Diajak Rasakan Kemerdekaan

Posted by Radio Grindulu FM Pacitan - 104,6 MHz on Sabtu, 14 Agustus 2021

Grindulu FM, Pacitan - Perawakannya kecil, rambutnya mulai memutih, kulit badan Sudirno pun juga mulai tampak keriput, bahkan suara berbicaranya tak lagi lantang seperti masa mudanya dulu. Pendengarannya juga mulai berkurang karena di makan usia.  Bahkan saat diwawancarai tak jarang jawabannya tidak nyambung. Dengan sekuat upaya Sudirno mencoba mengenang kembali namun masih ada banyak yang sudah tidak diingatnya lagi saat diwawancarai sejumlah wartawan di rumahnya, Jumat(13/08/2021) Akan tetapi siapa sangka jika lelaki tua berusia 79  tahun itu menjadi salah satu pelukis uang kertas Republik Indonesia yang beredar luas di masa Presiden Soeharto dan kini namanya di toreh dalam sejarah.

                                      

Sebagai engraver atau pengukir gambar apalagi menjadi salah satu yang beruntung namanya di tulis dalam sejarah karena ukirannya di abadikan dalam mata uang rupiah tentu akan menjadi beda bagi Sudirno (79) warga Rt01 Rw09 Dusun Ketro Desa Petungsinarang Pacitan."Ini profesi langka, hanya 10 orang, apa ada ya. seingat saya sekitar 10 orang gak ada mungkin." kenang Sudirno lupa lupa ingat Saat ditanya sejumlah wartawan, suara lirih dan berat  terdengar dari mulut sudirno. 

Dia mulai bercerita awal mulanya menjadi salahsatu pelukis gambar uang kertas. Di tengah tengah bercerita Sudirno juga tertawa kecil mengingat masa masa pertemuannya dengan isteri pertama yang sudah meninggal dunia. “Saya nderek teng mriko gadah pacar, nyusul pacar saya ke jakarta. Masnya pacar saya jadi Brimob. Tidur saya di emperan waktu itu. Kalau tidur menggelar tikar. Saya itu keluyuran gak ada kerjaan. Kalau sore nganggur, pagi sampai siang ngisi air drum di asrama Brimob. Dekat situ ada percetakan umum peruri, saya di sentak sama pegawainya. Lalu saya tanya lagi, apa bisa terima pegawai. Saya disuruh melamar dan saya gambar sektsa pakai pencil, pada waktu itu gambar saya  Jendral sudirman. Kemudian saya diterima tapi tugas saya jadi tukang sapu. Pimpinan percetakan suka dan sayang dengan saya lalu merekomendasi kalau saya pintar menggambar dan tugas saya selain tukang sapu akhirnya disuruh jadi perancang gambar. Itu awalnya saya di ketahui pimpinan perusahaan bisa menggambar.”cerita Sudirno.

Saat di tanya dari mana Sudirno bisa mengukir uang kertas, dia menjawab hanya dari bakat alami saja, tidak sekolah khusus. Meski banyak yang mulai lupa di ingatannya, namun Sudirno ingat betul hasil karyanya pada masa itu. Dia menunjukan uang kertas Rp.1.000 dengan gambar depan Dr. Soetomo terbitan 1980, uang kertas Rp.10.000 bergambar depan RA Kartini terbitan 1985. Dan banyak lagi yang diklaim hasil lukisanya hingga Rp.100 ribu.“Itu karya saya semua.”tutur Sudiro sambil tertawa terkekeh kekeh.


Ditambahkan Sudirno, dalam melukis setiap mata uang itu dibutuhkan waktu cukup lama. Dua bulan untuk melukis lembar depan dan lembar belakang. Pada saat hari kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh setiap bulan Agustus, nama Sudirno kembali diingat oleh segenap orang, salahsatunya Kapolres Pacitan AKBP Wiwit Ari Wibisono.

 
Kapolres merasa perlu memberikan penghargaan kepada sudirno dengan karya karyanya yang tidak semua orang bisa melakukannya. Tentu profesi langka yang salah satunya dipunyai warga Pacitan harus ikut bangga. Dengan rasa ingin tahunya Kapolres Wiwit pun menyambangi rumah Sudirno yang ada di Dusun Ketro Bandar. Selain memberikan penghargaan dengan menyambangi rumah Sudirno, Kapolres juga memberikan santunan berupa uang dan sembako.


“Pacitan perlu berbangga karena  masih ada tokoh yang masih hidup yaitu tokoh yang berhasil  menorehkan namanya di mata uang indonesia pada jaman dahulu yaitu di mata uang seribu dan sepuluh ribu. Dan menurut pengakuan beliaunya, beliau pernah mengukir mata uang seribu, juga dia melukis bahkan sampai seratus ribu pada masanya. Tadi yang saya lihat pada tahun 1980, 1990 dan menurut piagam yang dia terima, itu bahkan dia pernah dapat penghargaan melukis uang dari tahun 1965-1975. Dan saat ini beliau masih ada di tanah air kita. Kita perlu jaga dan menghormatinya. Beliau diajak turut merayakan kemerdekaan, kita pasang di rumahnya bedera. Sebab belum ada terpasang bendera.”jelas Kapolres Pacitan AKBP Wiwit Ari Wibisono.

 Editor : Asri Nuryani

Blog, Updated at: 11.42
Comments
0 Comments