Gempabumi yang terjadi di wilayah ini dipicu oleh aktivitas Subduksi
Megatrush Indo-Australia dan Eurasia serta adanya sesar aktif Sesar Grindulu
yang membentang di daratan Ponorogo hingga Pacitan.
“Kapasitas masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi ancaman
ini perlu terus ditingkatkan,”ucap Narasumber dari Meteorologi dan Geofisika
(PMG) Madya BMKG Nganjuk saat paparan dihadapan puluhan peserta SLG di Balai
Pertemuan Desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jumat
(17/7/2026).
Catatan sejarah mencatat sejumlah gempabumi besar yang berdampak di
wilayah ini, salah satunya adalah gempabumi Bantul yang terjadi pada 30 Juni
2023. Gempa berkekuatan magnitudo 6.4 yang terjadi di lepas pantai selatan Jawa
ini menimbulkan gempabumi besar yang mengguncang sebagian besar wilayah pesisir
selatan Jawan Timur termasuk Pacitan dan sekitarnya. Kerusakan infrastruktur
menjadi pelajaran penting akan perlunya kesiapsiagaan yang berkelanjutan
melalui Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG) di Kabupaten Pacitan yang
diikuti 50 lebih peserta dari berbagai instansi, lembaga, komunitas, dan media
lokal. Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Pacitan Gagarin Sumambrah,
tampak pula hadir Komandan Kodim 0801 Pacitan, Letkol Arh Rudi Ariyanto,
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dan pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi bencana gempabumi serta tsunami di wilayah pesisir selatan Jawa.
Pacitan secara geografis berhadapan langsung dengan zona subduksi
aktif (megatrush) di Samudera Hindia. Kondisi ini menempatkan wilayah tersebut
dalam kategori rawan bencana tektonik berkekuatan besar yang dapat memicu
gelombang tsunami.
Membangun komunitas tangguh bencana Kepala Stasiun Geofisika BMKG
Nganjuk menjelaskan bahwa SLG bukan sekedar sosialisasi rutin, melainkan ruang
edukasi interaktif untuk membangun pemahaman yang sama mengenai mitigasi
bencana mandiri.
Selain itu, dilakukan juga simulasi di dalam ruangan (Table Top
Exercise- TTX) yang mensimulasikan scenario gempabumi kuat magnitude 8.7 yang
bersumber dari zona subduksi di Samudera Hindia berdampak di Pacitan dan
sekitarnya dalam skala intensitas V-VII MMI.
Sekolah lapang gempabumi dan tsunami ini merupakan salah satu ikhtiar untuk memperkuat kapasitas dan koordinasi lintas sektor serta menanamkan budaya siaga bencana kepada masyarakat. Harapannya, masyarakat Pacitan, memiliki pemahaman dan respon yang tepat saat bencana gempabumi dan tsunami terjadi.
Reporter:Asri

