Angin laut Selatan yang bertiup kencang ditambah semburat kemerahan senjakala, sukses memberikan kesan redup dan hening khas adegan-adegan misterius di film horror. Apalagi lampu-lampu yang dipasang temaram dan kursi-kursi yang ditata berjejeran secara rapi, memberikan kesan nostalgia akan suasana bioskop layar tancap di masa lampau.
Komunitas Ruang Film Pacitan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah resmi menggelar Festival Film Horor (FFH) 2025, festival film horor pertama di Indonesia di inisiasi oleh Garin Nugroho, sutradara Indonesia yang sudah malang melintang di Festival Festival International.
Festival Film Horor pertama di Indonesia yang digelar bertempat di Pantai Pancer Dorr tersebut berhasil menyerap 285 film horror dari sineas di seluruh Indonesia. Tak heran jika FFH 2025 menjadi peristiwa yang bersejarah bagi Pacitan dan perfilman Indonesia.
Pembukaan FFH di hadiri Pengkaji film Novi Kurnia (UGM), Putri Nugrahaning (ISI Solo), Ardi Chandra (ISI Solo), dan Pus Rino (ISI Jogja). Hadir pula inisiator dan penasihat festival Ong Hari Wahyu budayawan, seniman dan pengarah artistic film senior Indonesia.
“Alhamdulillah acara sukses digelar. Acara ini bukan hanya sekedar pemutaran film namun begitu banyak makna karena berkaitan erat dengan masyarakat Pacitan khususnya dan pada umumnya,”ucap Bupati Indrata Nu Bayuaji.
Festival film horror membuka ruang baru bagi sinema nusantara untuk tumbuh, berani, dan berakar pada cerita kultur lokal.
“Perayaan film horror di Pacitan adalah perayaan untuk kita semua, perayaan untuk kita bisa mengerti bagaimana cara hidup, gaya hidup, bereaksi, dan bertindak masyarakat kita dalam berbagai aspek dalam kehidupan berbangsa ini,”jelas Garin Nugroho.
Reporter:Asri

